Tampilkan postingan dengan label Kepribadian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kepribadian. Tampilkan semua postingan

13 Des 2012

PENDIDIKAN YANG MEMBANGUN KEMAKMURAN - BUKAN SEKEDAR MENIADAKAN

740.206 lulusan Perguruan Tinggi (2007) yang menganggur adalah bukti nyata bahwa Indonesia sudah kelebihan pasokan pencari kerja dan kekurangan pasokan pencipta kerja. Pendidikan kita telah berhasil menghasilkan lulusan dengan tanda lulus belajar untuk masuk ke pasar kerja namun sayangnya kenaikan jumlah lapangan kerja kalah cepat dengan kenaikan jumlah lulusan. Tanpa terobosan baru dalam bidang pendidikan maka sekolah dan perguruan tinggi kita akan menjadi "pabrik" penghasil pengangguran khususnya para penganggur muda yang terdidik. Kondisi ini akan jadi sumber berbagai kekacauan dan bencana sosial yang mengerikan.
Sangat ironis bila kita mengingat fakta bahwa Indonesia tercinta adalah zamrud khatulistiwa yang limpah dengan kekayaan alam dan budaya. Rakyat Indonesia ternyata belum berhasil mengolah karunia TUHAN Yang Maha Esa menjadi kesejahteraan bagi dirinya, keluarganya dan bagi bangsanya. Ini adalah sebuah bukti bahwa manfaat ekonomis yang terbesar memang bukan berpihak kepada siapa yang memiliki atau memperoleh kekayaan alam tapi berpihak kepada mereka yang mampu memasarkan produk kepada pasar dengan nilai tambah terbesar. Inilah hukum pasar dan siapa saja yang berada di dalam pasar harus tunduk kepada hukum ini. Oleh karena itu tanpa kecakapan entrepreneurship (kecakapan mengelola pasar) cita-cita generasi muda untuk lepas dari kemiskinan dan bangkit meraih kemakmuran tampaknya hanya jadi sebuah utopia

Pendidikan Menjadi Bagian Dari Masalah
Pendidikan yang terjadi diseluruh dunia pada dasarnya membangun manusia-manusia pekerja. Sumber daya manusia yang kaya dengan ragam potensi telah berhasil kita masukkan dalam cetakan yang seragam yaitu dibentuk untuk jadi pencari kerja. Strategi ini tidak salah bila industri terus bertumbuh secepat pasokan tenaga kerja dan kemajuan teknologi berpihak penuh pada kaum pekerja. Pada kenyataannya sekarang Indonesia bukan satu-satunya pilihan terbaik untuk industri dunia, tetangga-tetangga kita seperti Vietnam, Kamboja dll makin ramah dan makin menarik bagi investor. Selain itu kemajuan teknologi di satu sisi menciptakan lapangan kerja di pihak lain menjadi senjata pemusnah masal lapangan kerja yang terbaik. Sebagai contoh, mesin ATM yang menawarkan solusi dan pelayanan yang canggih mampu bekerja 24 jam dan paling tidak setiap mesinnya menggantikan 3 orang pekerja. Sadarkah kita bahwa puluhan ribu ATM di tanah air yang telah kita undang dan sambut itu ternyata meniadakan barangkali ratusan ribu lapangan kerja kasir?

Pendidikan Dengan Orientasi Baru Adalah Solusi
Pendidikan dengan orientasi yang baru harus dapat menjawab pernyataan Nicholas Negroponte (penggagas laptop US$ 100) sebagai berikut: "Pada tahun 2020 kebanyakan atasan adalah diri sendiri..." Ini adalah tentang sebuah pekerjaan yang diciptakan oleh diri sendiri, atau menjadi entrepreneur. Oleh karena itu kita harus memiliki sebuah orientasi baru dalam pendidikan yaitu hadirnya pendidikan entrepreneurship yang ikut memperkaya pendidikan nasional. Kita harus memberikan inspirasi dan pelatihan entrepreneurship kepada generasi muda kita sejak dini sesegera mungkin karena memang mendidik orang hanya jadi pekerja adalah strategi masa lampau yang sudah tidak cocok lagi untuk menghadapi tantangan masa kini dan masa depan.

Bukan Hanya Keluar Dari Kemiskinan
Pembelajaran entrepreneurship bukan hanya akan menghasilkan manusia-manusia masa depan yang dapat bebas dari kemiskinan namun para entrepreneur yang bertumbuh dan berhasil adalah sumber-sumber kesejahteraan masyarakat yang dapat kita andalkan. Dari kegiatan entrepreneurship dapat kita harapkan lapangan pekerjaan baru, berbagai kutipan pajak, masyarakat yang sehat dan kota-kota yang terbangun melalui swadaya masyarakat. Pendidikan entrepreneurship adalah senjata penghancur massal untuk pengangguran dan kemiskinan sekaligus jadi tangga menuju impian setiap warga masyarakat untuk mandiri secara finansial, memiliki kemampuan membangun kemakmuran individu dan sekaligus ikut membangun kesejahteraan masyarakat.

Berdiri Diatas Kaki Sendiri
Untuk membangun kemakmuran kita patut dan harus berdiri diatas kaki sendiri. Untuk cita-cita ini kita tidak bisa bergantung pada negara-negara lain. Negara-negara maju mungkin prihatin dan peduli bila kita lapar dan miskin namun jangan harapkan bantuan dari mereka bila kita ingin makmur dan sejahtera. Kita bersama patut memiliki keyakinan kuat bahwa anugerah TUHAN Yang Maha Esa bagi Indonesia lebih dari cukup bahkan melimpah apakah itu kekayaan alam raya maupun sumber daya manusia untuk menjadi modal membangun bangsa yang sejahtera dan kuat. Namun kita harus melakukan bagian kita yaitu mengolah anugerah TUHAN tersebut agar dapat disambut pasar dan dijadikan kesejahteraan rakyat. Sebuah jalan sangat penting untuk mencapaicita-cita itu adalah kecakapan entrepreneurship yang menyebar luas di seluruh negeri dan pendidikannya dilakukan sejak dini.

Sumber:
Antonius Tanan - University of Ciputra Entrepreneurship Center. 25 Sept 2008
http://www.ciputra.org/node/482/pendidikan-yang-membangun-kemakmuran-bukan-sekedar-meniadakan.htm. 20 Maret 2009

Inspirasi

Bisnis Waryono, Seorang Office Boy

12 Des 2012

Jenis Kepribadian

Kepribadian manusia terbentuk dari banyak sekali komponen (sifat), dan setiap komponen merupakan variabel. Setiap orang memiliki kepribadian yang susunan komponennya berbeda dengan orang lain. Karena itu setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda dengan orang lain.

Namun demikian untuk memudahkan, Florence Littauer dalam bukunya Personality Plus mengelompokkan kepribadian ke dalam empat jenis, yaitu:
1.                   Sanguinis Populer
2.                   Koleris Kuat
3.                   Melankolis Sempurna
4.                   Plegmatis Damai

Gambaran Sekilas
  1. Seorang Sanguinis itu bersifat spontan, lincah, periang, optimistik, ekstrovert, tetapi suka pamer dan suka memerintah. 
  2. Seorang Koleris bersifat suka berpetualang, persuasif dan percaya diri, tetapi keras kepala dan kurang simpatik.
  3. Seorang Melankolis bersifat penuh pemikiran, setia, tekun, analitis, tetapi pesimistik dan introvert.
  4.  Seorang Phlegmatis bersifat ramah, sabar, puas, dan diplomatis, tetapi kurang bersemangat dan pemurung.  
    Setiap kepribadian memiliki kekuatan dan kelemahan. Semua jenis kepribadian diperlukan adanya dalam se-tiap sistem sosial / organisasi. Kepribadian sebagai totalitas sifat-sifat yang dimiliki oleh seseorang tidak bisa disebut baik atau jelek, kom-ponen-komponennya yang bisa jelek/lemah atai baik/kuat.

Receive all updates via Facebook. Just Click the Like Button Below

Powered By Blogger Widgets