14 Jul 2013

Tips Meningkatkan Pemasaran Anda

Saat ini efektifitas pemasaran sangat penting untuk dipertimbangkan. Media online dan offline yang dilakukan secara bersama-sama memberikan sinergi dalam meningkatkan pemasaran sebuah produk. Ada media-media yang gratis maupun berbayar yang bisa dijadikan sarana untuk meningkatkan pemasaran. Dan kesemuanya itu perlu dimanfaatkan sebaik mungkin.

Berikut ini beberapa tips memanfaatkan media yang bisa dipakai untuk meningkatkan pemasaran anda.

1. Brosur dan Business Card
Meski media digital telah memasuki segmen bisnis secara massif namun peran media cetak seperti brosur masih cukup penting. Banyak orang menyimpan brosur sebagai pengingat profil produk atau perusahaan anda, jika suatu waktu mereka membutuhkan akan membuka-buka kembali brosur itu.

2. Linkedln
Media sosial memiliki peran yang cukup penting dalam meningkatkan pemasaran anda. Orang akan cenderung memeriksa profil produk/perusahaan anda melalui media ini. Memberikan backlink ke website yang berisi deskripsi perusahaan anda merupakan langkah yang baik untuk meningkatkan pemasaran.

3. Website dan Blog
Saat ini hampir setiap perusahaan bahkan pribadi memiliki web/blog. Orang akan lebih mudah melihat profil dan menjawab berbagai pertanyaan mengenai perusahaan/produk anda. Karena itu berikan informasi sejelas-jelasnya mengenai perusahaan anda melalui website atau blog.

4. Press Releases
Terkadang ada peristiwa atau moment penting yang ada pada perusahaan anda namun tidak diketahui publik karena tidak ada pemberitaan. Karena itu penting melakukan press releases akan peristiwa atau event yang perusahaan anda miliki melalui media lokal. Ini memberi kesempatan orang untuk lebih mengetahui produk anda sehingga mampu meningkatkan pemasaran, paling tidak menjadi dikenal.

5. Email
Email bisa menjadi sarana efektif untuk meningkatkan pemasaran anda, email memungkinkan untuk membangun relasi yang lebih nyaman dengan orang yang belum begitu dikenal.(Galeriukm).

Sumber:
http://smallbiztrends.com/2011/09/5-marketing-mix-tips.html

11 Jul 2013

Mengukur Efektivitas Pemasaran Interaktif

Sebelumnya, kita sendiri perlu mengetahui dasar-dasar mengelola, memelihara dan menjaga suatu website agar tetap menjadi sarana pemasaran yang akan selalu dilihat oleh para pengunjungnya. Hal yang paling penting dan paling utama ialah pemeliharaan, atau biasa disebut maintenance.

Proses maintenance ini termasuk di dalamnya ialah dari segi copy website, yakni konten, lay-out, dan segala yang tercantum di dalam website tersebut. Kemudian dilanjutkan dengan review, dan proses koreksi dari review tersebut, lalu barulah di-publish sementara dalam kondisi masih bisa diubah-ubah, hingga sampai pada tahap akhir di mana publish-an sudah selesai di-test pasca publish sementara.

Hal-hal di atas ialah membicarakan soal maintenance website. Bagaimana dengan update dari konten itu sendiri? Tentu saja harus selalu di-update. Karena pengunjung tentunya tidak ingin datang ke suatu website mendapati dirinya hanya membaca informasi yang tidak berubah selama lima bulan terakhir.

Proses update hendaknya mencakup beberapa time series atau manajemen waktu update seperti di bawah ini:
* Jika ada kesalahan (error) harus diperbaiki tidak lebih dari 2 hari
* Setidaknya ada ’berita’ atau informasi yang baru tiap satu bulan sekali
* Informasi mengenai suatu produk jangan sampai statis (tidak berubah atau tidak dinamis) selama lebih dari dua bulan

Selanjutnya, masih lanjutan mengenai maintenance, diperlukan juga pembagian tanggung jawab mengenai siapa-siapa saja yang akan terlibat dalam pemeliharaan (maintenance) tersebut.

Siapakah yang memiliki website tersebut, bisa jadi merupakan gabungan dari tim marketing suatu perusahaan bersama dengan tim web developer yang bisa berasal dari agency periklanan maupun tenaga profesional IT. Merekalah yang memegang arahan ke mana website akan di bawa, sumber dan awal dari metode pemasaran interaktif melalui internet.

Kemudian, siapakah yang memiliki atau memegang bagian konten? Tentunya peranan seseorang yang dibebani tugas untuk meng-update konten website harus dibantu oleh berbagai divisi dari perusahaan tersebut. Konten mengenai informasi produk tentu saja harus selalu di-update oleh bagian produksi, kemudian konten mengenai informasi harga produk dari bagian bisnis, informasi mengenai hal-hal lain dari beberapa divisi dalam suatu perusahaan haruslah dikontribusikan. Sehingga si peng-update website-nya sendiri tinggal menyusun kalimat yang seragam untuk berbagai informasi yang ia terima dari rekan-rekan kerjanya di divisi lain.

Lalu, siapakah yang memegang bagian format website? Yaitu orang yang mengurusi desain dan tata letak dari website, dengan kata lain ialah sang web designer. Dan yang terakhir ialah masalah teknologi, siapa yang memegangnya alias mengurusi segala urusan teknis seperti HTML, kecepatan akses, dan segalanya, yang biasanya dibebankan kepada seorang webmaster. Dialah yang memantau segala kinerja website dari segi teknis.

Setelah proses maintenance atau pemeliharaan suatu website, dibutuhkan juga teknik pengukuran efektivitas pemasaran melalui media internet tersebut, seperti yang telah disebutkan sebelumnya pada bagian pembuka. Pengukuran ini dikenal dengan istilah ”metric”.

Ada beberapa pendekatan pengukuran atau metric yang perlu dicari dalam mengukur efektivitas suatu website. Pertama ialah metric dari efektivitas di segi bisnis, kemudian metric dari efektivitas di segi marketing atau pemasaran, dan yang terakhir ialah metric dari internet marketing itu sendiri.

Yang pertama, metric dari segi efektivitas bisnis, diukur dengan beberapa hal sebagai berikut:
- Kontribusi langsung secara online terhadap pendapatan
- Kontribusi tidak langsung secara online terhadap pendapatan
- Untung dari si website itu sendiri (bukan dari produknya, tapi penghasilan yang diperoleh dari website yang dibuat, harus bisa menutup biaya yang keluar untuk pembuatan website tersebut)
- Return on Investment atau ROI
- Dan berkurangnya biaya operasional

Selanjutnya, efektivitas dari segi marketing, yang bisa dinilai dari beberapa aspek seperti di bawah ini:
- Penjualan yang melebar yang disebabkan oleh si website
- Impact atau pengaruh terhadap tingkat permintaan pasar
- Kepuasan dari pelanggan baik dari yang menggunakan internet maupun yang tidak menggunakan internet
- Impact atau pengaruh terhadap kepuasan pelanggan yang membawa mereka ke arah loyalitas brand

Lalu, yang ketiga ialah mengukur efektivitas dari internet marketing itu sendiri, yaitu dari penggunaan si internet sebagai sarana pemasaran perusahaan.

Ada beberapa poin penting untuk diperhatikan, yaitu:
- Capture, seefektif apakah kita meng-attract pelanggan baik menggunakan metode promosi online maupun offline? Apakah website kita menggunakan banner, atau offline message dengan alamat URL yang jelas? Dan sebagainya.
- Content, seberapa baik si pelanggan memperoleh informasi dan seberapa mudah mereka mengikuti desain tata letak dari website tersebut? Di bagian ini juga termasuk adalah performa kecepatan akses dan availability
- Customer orientation, apakah konten sesuai dengan target audiens? Misalkan, spesifik pekerjaannya, spesifik industrinya, spesifik negaranya, dan lain-lain? Mudahkah mereka menemukan informasi di sana? Apakah selalu di-update?
- Community and interactivity, seberapa baikkah interaksi yang dibangun sehingga mempertemukan customer needs dengan segala hal yang ditawarkan?

Semua hal yang dibahas kali ini ialah menyangkut pemeliharaan dan pengukuran itu semua. Walaupun kemudian pada akhirnya, dikenallah sebuah layanan pengukuran web (webmetric dan webtrends) yang sangat membantu para pemasar interaktif untuk mengevaluasi dan mengukur efektivitas website mereka.

Sumber:
Modul Perkuliahan Media dan Pemasaran Interaktif, SAP 10
http://ibreakmoment.wordpress.com/2010/04/08/mengukur-efektivitas-pemasaran-interaktif/

Sukses Bisnis Barang Koleksi

Hobi koleksi Mas Abi teman seangkatan saya, bermula sejak kelas satu SMP, gara-gara hadiah sebuah album perangko yang sudah ada isinya sebagian dari sang kakek yang philatelist (pengumpul perangko). Sejak itulah kegemaran mengumpulkan perangko Abi berkembang apalagi dapat dorongan dari ayahnya yang juga seorang philatelis. Koleksi Abi menjadi tambah lengkap sejak dapat warisan album koleksi sang kakek sewaktu beliau meninggal.

Hobinya berlanjut sampai dia kuliah, bahkan sewaktu kuliah dia gabungkan hobinya tersebut dengan bisnis, jual beli perangko antar philatelist, hasilnya biaya kuliah dapat dia cari sendiri dari keuntungan bisnis perangkonya. Hal ini terus berlanjut sampai sewaktu Abi sudah bekerja. Pernah suatu ketika secara iseng waktu dia bepergian ke Singapura, membawa beberapa lembar perangko yang kebetulan berlebih.

Di Singapura barang tersebut ditawarkan ke toko perangko setempat ternyata harganya sangat bagus, walhasil dengan menjual perangko yang di bawanya ongkos pulang pergi ke Singpura plus beli oleh-oleh dapat ditutup, bahkan berlebih. Dia secara lebih aktif berbisnis perangko dan hasilnya dengan kegiatan tersebut dia berhasil membeli rumah dan berpenghasilan sampingan yang lebih tinggi dari gajinya. Karenanya dia putuskan berhenti dari bekerja dan menekuninya bisnis tersebut sampai sekarang.

Yanto, senang akan mata uang sejak dia menyaksikan sepulang kerja dari kantornya seorang pedagang mata uang di trotoar jalan yang banyak dikerumuni orang. Secara iseng dia dekati dan bertanya tentang bisnisnya, ternyata sangat menarik dan memberi keuntungan. Karena tertarik dia mulai belajar dan mencoba bisnis tersebut, ternyata sangat besar potensinya.

Setelah dirasa mantap, dia memutuskan konsentrasi dalam bisnis tersebut dan keluar dari kantornya sebuah bank swasta. Dia tekuni bisnis mata uang baik Indonesia dan asing serta mempelajari seluk beluk mata uang Indonesia khususnya. Kegiatan tersebut dia jalankan sampai sekarang dengan hasil nyata, sebuah rumah di real estate, kendaraan roda empat dan penghasilan yang tidak kalah besar dibanding dengan gajinya sewaktu dia kerja di bank swasta, bahkan sekarang mempunyai sebuah toko khusus di mall ternama dengan omzet jutaan setiap bulannya. Keduanya tertarik dan menekuni dan menjadikan hobi koleksinya sebagai profesi utamanya. Sebenarnya semua orang sejak kecil,mempunyai naluri kegemaran mengumpulkan dan menyimpan barang sudah ada. Anak-anak senang sekali mengumpulkan mainan, remaja senang menyimpan barang kesukaannya. Kegemaran ini dikenal sebagai hobi koleksi.

Dalam Kamus Bahasa Indonesia, hobi diartikan sebagai kegemaran atau kesenangan istimewa pada waktu senggang, dilakukan secara terus menerus tetapi bukan pekerjaan utama. Hobi koleksi kegemaran mengumpulkan dan menyimpan barang.. Sebagaimana hobi lainnya dewasa ini hobi koleksi merupakan salah satu hobi yang cukup populer dan banyak penggemarnya, tidak saja koleksi barang yang sudah jamak atau umum, tetapi juga barang langka dan belum dikenal. Dari hobi koleksi muncul beberapa jenis profesi, antara lain bisnis barang koleksi, sehingga kegiatan tersebut tidak saja sekedar kegiatan sambilan tetapi menjadi utama. Dewasa ini tidak jarang profesi utama seseorang bermula dari hobi koleksi. Tidak sedikit yang menjadikannya sebagai usaha utama dan sumber mata pencaharian yang sukses.

Semua barang dapat dijadikan obyek koleksi. Istilah kerennya kumpulan barang yang dirawat dan diatur secara rapi dikenal sebagai koleksi, penekun hobi koleksi dikenal dengan sebutan kolektor. Koleksi apapun dapat dijadikan bisnis atau diperjual belikan yang menghasilkan uang. Koleksi berharga dan bernilai tinggi, bergantung pada jenis, kondisi serta kualitas barang.

Koleksi bisa berupa barang lama yang sudah tidak diproduksi lagi, seperti barang antik bersejarah, relief candi, arca-arca, keris pusaka dan lain-lain. Barang lawas produksi lama tetapi masih diproduksi, seperti barang seni lukisan, patung, keramik, cindera mata, manik-manik, jam, boneka, mainan anak, gantungan kunci, asesori dan lain-lain. merupakan salah satu pilihan sebagai obyek koleksi. Umumnya yang dicari adalah barang lawas karena jumlahnya sudah terbatas sehingga bernilai tinggi.

Profesi apa yang dapat tercipta berkaitan dengan hobi koleksi?. Banyak macam diantaranya profesi sebagai perantara, pengepul, pedagang serta membuka galeri dan pelelangan barang koleksi. Perantara merupakan jembatan penghubung pemilik atau penjual dan peminat atau pembeli barang koleksi. Pengepul adalah penerima dan pembeli barang koleksi dari para perantara dan pemilik, sedang pedagang adalah penjual barang koleksi. Tidak jauh bedanya dengan pedagang adalah pemilik galeri dan pelelangan barang koleksi. Mengingat manfaat hobi koleksi, tidak ada salahnya kalau kegiatan tersebut dapat digalakkan kepada masyarakat umum, khususnya anak-anak, para pelajar, remaja, dan mahasiswa.

Hal ini dapat dimulai dari lingkup keluarga dengan membimbing dan mengarahkan kegemaran anak-anak mengoleksi barang-barang yang disukainya. Memberi petunjuk memilih barang yang berkualitas baik serta merawat dan menyimpan dengan tekun merupakan salah satu upaya pemupukan hobi koleksi anak-anak. Di sekolah mungkin hobi koleksi dapat dijadikan salah satu kegiatan ekstra kulikuler (ekskul).

Demikian juga di perkumpulan remaja seperti pramuka, karang taruna sampai ke universitas-universitas. Tidak hanya itu, kiranya hobi koleksi sudah waktunya untuk dimasyarakatkan, digalakkan dan dipopulerkan karena hal tersebut dapat dipakai sebagai salah satu solusi bagi penciptakan lapangan kerja misalnya memanfaatkan hobi koleksi sebagai profesi utama yaitu bisnis barang koleksi. Bagi yang ingin lebih mengetahui kiat-kiat agar bisnis barang koleksi sukses, insyaalah dalam waktu dekat akan terbit buku: “Sukses bisnis barang koleksi”.

Sumber : http://www.penulismuda.com/

Mengoptimalkan Peran Social Media Bagi Bisnis

Tentunya sebagian besar kita sudah akrab dengan media sosial (social media) seperti halnya Facebook, twitter dan lain-lain. Sosial media memiliki banyak potensi besar bagi bisnis termasuk usaha kecil. Sayangnya, ada sedikit ketakutan bagi para pemilik usaha kecil berkaitan dengan besarnya biaya yang dikeluarkan untuk sewa bandwidth pada media sosial. Namun jika kita bisa mengoptimalkan peran social media bagi bisnis kita, dengan menyeimbangkan ROI (Return Of Investment) maka ketakutan itu tidak perlu muncul. Social media bisa dimanfaatkan sebagai strategi marketing bagi bisnis kita.

Sesungguhnya, jika dibagi dari aspek fungsionak, social media memiliki dua hal yaitu:

* Marketing, social media dipergunakan sebagai media untuk marketing/pemasaran produk-produk anda. Sebagai tempat berkumpul baru bagi calon pelanggan social media memiliki potensi besar untuk memperkenalkan produk anda.

* Communication, Selain sebagai media pemasaran, social media berdifat interaktif sehingga calon pelanggan tidak hanya melihat iklan produk anda saja tetapi juga bertanya sampai terlibat dalam deal mempergunakan produk anda.

Melihat fungsi yang cukup potensial tersebut banyak hal bisa dilakukan pada social media. Jika deal sudah dilaksanakan, Social Media bisa dimanfaatkan untuk bercakap-cakap dengan pelanggan. Mengucapkan terimakasih telah menggunakan produk kita, sangat membantu pemasaran usaha.(Galeriukm).

Sumber : http://galeriukm.web.id/artikel-usaha/mengoptimalkan-peran-social-media-bagi-bisnis

Menikmati Gurihnya Laba Icip-icip Jangkrik

Hewan bernama jangkrik (gryllus sp) lebih banyak beken sebagai salah satu bahan pakan ayam atau burung. Lebih dari itu, jangkrik sering dipelihara anak-anak ataupun di rumah-rumah sebagai hewan aduan ataupun sebagai pengusir tikus.

Namun, banyak penelitian menyebutkan bahwa kandungan gizi dalam daging jangkrik ternyata bermanfaat bagi manusia. Kandungan proteinnya tiga kali lipat kandungan daging ayam, sapi dan udang.

Jangkrik juga mengandung protein omega 3, omega 6 dan omega 9 yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang anak. Selain itu, konsumsi jangkrik dipercaya dapat menambah stamina tubuh, menambah gairah seksual, serta mampu menunda menopause bagi wanita.

Tak heran jika jangkrik kemudian marak dibudidayakan. Apalagi pada tahun 1998 ketika budidaya jangkrik dan cacing sedang booming. Saat ini, sebagian besar hasil budidaya jangkrik untuk pasokan pakan ternak.

Namun, di tangan Sri Rahayu, pemilik Sri Gryllus/Latansa, jangkrik diolah menjadi peluang usaha baru yang patut dilirik. Yaitu sebagai makanan siap saji. Seperti peyek, rendang, balado, biskuit dan srundeng.

Semua makanan ini sudah mendapat sertifikat dari dinas kesehatan dan dari MUI setempat. sehingga halal dan aman dimakan. “Tapi hati- hati, yang alergi udang tidak bisa makan ini,” tutur Sri.

Dari hasil jualan jangriknya ini, nenek berusia 66 tahun ini bisa mendapat penghasilan antara Rp 7 juta sampai Rp 8 juta per bulannya. Padahal wilayah pasar utamanya masih sekitar Riau saja.

Menurut Sri, tahun 1998 silam dirinya tertarik membudidayakan jangkrik. “Gara-garanya, di Jogja waktu itu sedang marak budidaya jangkrik. Lalu saya tertarik mempelajari dari buku,” ujarnya.

Tanpa pikir panjang, Sri lantas membeli 300 ekor jangkrik betina dan 100 ekor jangkrik jantan. Harganya waktu itu Rp 25 per ekor. “Budidaya jangkrik sangat mudah dan tidak makan tempat. Cukup sediakan kotak-kotak khusus saja,” ujar Sri enteng. Sri sendiri saat ini tinggal memiliki 30 kotak jangkrik berisi masing-masing 4000 ekor jangkrik.

Kemudian, tahun 2000 Sri mulai panen jutaan ekor jangkrik. Sayang, waktu itu harga jangkrik sedang turun. Bingung harus berbuat apa, Sri lantas menggoreng jangkrik-jangkrik tersebut dan dibagikannya ke teman-temannya. “Rata-rata suka dan bilang enak. Dari situ saya berfikir bahwa ada peluang usaha di jangkrik ini,” ujarnya.

Sejak itu, Sri terkenal sebagai pengusaha kapsul jangkrik. Kapsul tersebut dijual seharga Rp 100.000 per botol dengan isi 50 butir kapsul. Beratnya 500 miligram. “Dalam sebulan, saya bisa memenuhi pesanan kapsul sebanyak 20 kilo kapsul,” ujarnya senang.

Nah, tahun 2008 silam, Sri kembali melakukan kreasi dengan membuat peyek jangkrik. Tak disangka, peminatnya membeludak. Dalam sebulan, Sri bisa menghasilkan 15 kilo peyek yang dijual seharga Rp 60.000 per kilo. Peyek jangkrik ini bisa tahan sampai 20 hari.

Sementara bahan jangkriknya hanya butuh 5 kilo saja. “Kalau sedang kekurangan jangkrik, saya ambil dari jangkrik pembudidaya lain seharga Rp 45.000 per kilo. Tapi jarang,” ujarnya.

Setelah sukses dengan peyek jangkrik, Sri lantas berinovasi membuat rendang jangkrik. “Kebetulan di Riau banyak orang Minang. Mereka kan suka rendang,” kilahnya.

Dalam sebulan, Sri bisa membuat 12 kilo rendang dari bahan 10 kilo jangkrik. Harga jualnya Rp 80.000 per kilo. Makanan ini bisa tahan sampai tiga bulan.

Lantas, muncul pula balado jangkrik. Untuk makanan jenis ini, jangkrik dan sambal (balado) digoreng terpisah. Lalu setelah itu, dicampurkan. “Untuk balado ini belum banyak peminatnya. Saya hanya buat 8 kilo sebulan. Harganya Rp 80.000 per kilo,” lanjut Sri. Balado ini tahan selama sebulan.

Ada juga biskuit jangkrik. Bahan-bahannya dari kelapa, jahe dan jangkrik yang digiling halus dan ditambahkan telor serta mentega. Setelah jadi adonan, dicetak. “Warna biskuitnya hitam seperti Oreo. Jadi banyak yang suka,” kekeh Sri.

Dalam sebulan, Sri bisa memproduksi 20 kilo biskuit dengan bahan jangkrik sebanyak 10 kilo. Harganya Rp 60.000 per kilo. Tak hanya itu, Sri juga membuat serundeng jangkrik. Dalam sebulan, Sri bisa membuat lima kilo serundeng jangkrik seharga Rp 30.000 per kilo. “Bahan jangkriknya sedikit karena hanya untuk suwiran saja,” ujarnya.

Lantaran unik, produk Sri sering mendapat kesempatan pameran ke luar negeri sebagai produk unggulan Provinsi Riau. Misalkan saja ke Korea Selatan, Taiwan dan Singapura. “Sampai saat ini, mungkin baru saya pemain olahan makanan jangkrik ini,” pungkasnya

Sumber : http://nasional.kompas.com/read/2009/07/26/11285625/Menikmati.Gurihnya.Laba.Icip.icip.Jangkrik

Burung Dara Goreng Lesehan Dan Chinese Food

Berkunjung ke Yogya, serasa tak lengkap tanpa menjenguk suasana malam di Malioboro. Menyusuri trotoar Malioboro, belum sempurna tanpa singgah di warung "lesehan". Dan sambil duduk lesehan, tentu tak sedap kalau tak mencicipi "menu wajib" burung dara goreng. Demikian pula warung-warung di kakilima Pecenongan, Jakarta; jl. Margonda, Depok dan lain-lain yang menjadikan burung dara goreng sebagai menu khas yang diandalkan. Namun ada perbedaan antara burung dara goreng yang disajikan di kakilima dengan burung dara goreng di restoran Chinese Food papan atas. Di warung lesehan kakilima, burung dara gorengnya adalah anak merpati balap (burung merpati biasa). Sementara di restoran Chinese Food papan atas, burung dara gorengnya adalah anak Homer King Pigeon, merpati potong yang khusus dipelihara untuk memproduksi daging.

Anak merpati balap yang disajikan sebagai "burung dara goreng" rata-rata hanya sekitar 0,25 kg per ekor. Sementara Homer King Pigeon rata-rata 0,5 kg. per ekor. Daging Homer King juga lebih tebal dan lebih lunak. Daging merpati balap kadang kala agak alot dan tipis. Namun karena pasokan Homer King sangat terbatas, maka merpati balap tetap mendapatkan tempat sebagai burung dara goreng di warung lesehan dan Chinese Food papan bawah. Faktor strata kemampuan ekonomi ini pulalah yang menjadi penyebab terciptanya strata menu burung dara goreng. Sebab harga anak merpati balap, paling tinggi hanya Rp 5.000,- per ekor hidup. Sementara anak Homer King bisa dihargai Rp 17.500,- per ekor. Tingginya harga merpati potong Homer King, disebabkan oleh masih sedikitnya peternak yang mengetahui celah bisnis ini.

Beda dengan anak merpati balap yang bisnisnya hanya merupakan "sambilan" dari hobi memelihara merpati, maka berternak Homer King harus diurus dengan serius. Kalau merpati balap boleh bebas beterbangan, Homer King harus tetap berada dalam kandang, makan, tidur, kawin, bertelur dan mengerami telur sampai menetas. Anak merpati itu harus disuapi sampai umur 10 sd. 14 hari dan siap diambil untuk dikirim ke Chinese Food Restaurant sebagai bahan menu "burung dara goreng". Pada umur itulah, bobot anak homer king rata-rata 0,5 kg. hidup.

Sebenarnya "teknologi" budidaya Homer King sudah benar-benar final dengan rumus yang sangat baku. Namun usaha ini sangat padat modal dan bukannya padat karya. Pasar hotel bintang dan Chinese Food di DKI Jakarta, pasti masih ringan kalau hanya menyerap 100 ekor anak Homer King per hari. Tetapi untuk bisa memasok 100 ekor anak burung dara per hari, diperlukan modal investasi Rp 600.000.000,- dan modal kerja Rp 300.000,- per hari. Investasi Rp 600.000.000,- itu, yang Rp 250.000.000,- untuk 1000 ekor pasang induk @ Rp 250.000,- kandang Rp 300.000.000,- dan pakan, obat-obatan serta tenaga kerja (sampai dengan menghasilkan) Rp 50.000.000,-

Modal investasi itu bisa disusutkan selama 5 tahun atau @ hari Rp 330.000,- Biaya pakan, obat-obatan dan tenaga kerja sebagai modal kerja, menjapai Rp 320.000,- per hari. Hingga harga pokok 100 ekor anak Homer King adalah Rp 650.000,- : 100 = Rp 6.500,- per ekor. Kalau di tingkat hotel dan restoran harga anak merpati Rp 17.500,- per ekor, maka di tingkat peternak Rp 15.000,- per ekor. Dengan harga pokok Rp 6.500,- per ekor, maka marjin kotor usaha agroindustri daging Homer King Pigeon adalah Rp 8.500,- per ekor. Dengan hasil 100 ekor per hari, maka total marjin kotor yang didapat menjadi Rp 850.000,- per hari.

Dibanding dengan ayam pedaging, sebenarnya budidaya merpati Homer King lebih menguntungkan. Karena dari 0,8 kg. pakan yang masuk ke kandang tiap hari, dapat dihasilkan 0,5 kg anak merpati, apabila produksi sudah optimum. Namun untuk memperoleh 1000 pasang bibit Homer King sekaligus, sekarang ini tidak mudah. Hingga alternatifnya adalah dengan pemeliharaan secara bertahap. Mula-mula hanya dibeli 50 pasang induk dengan investasi Rp 12.500.000,- kandang Rp 15.000.000,- pakan, obat-obatan dan tenaga kerja Rp 2.500.000,- (sampai menghasilkan) atau total Rp 20.000.000,- Dari modal tersebut, akan dapat dihasilkan anak burung 40 ekor (20 pasang) per hari.

Untuk menjadi calon induk, anak merpati itu harus dibesarkan sampai umur 4 bulan, dengan biaya pembesaran Rp 50.000,- per ekor. Hingga harga pokok bibit merpati "hasil produksi sendiri" hanya Rp 100.000,- per pasang. Berarti ada penghematan biaya bibit Rp 150.000,- per pasang atau untuk 1000 ekor bibit, penghematannya Rp 150.000.000,- Namun untuk bisa memperoleh 1000 pasang bibit calon induk, diperlukan jangka waktu 50 hari. ditambah 4 bulan atau 5 bulan 20 hari atau 0,5 tahun. Untuk bisa berproduksi optimal, masih diperlukan jangka waktu sekitar 5 bulan lagi. Namun dari penghematan biaya investasi bibit tersebut, benab penyusutan per hari akan menurun, hingga marjin kotor yang diperoleh bukan hanya Rp 850.000,- per hari, melainkan naik menjadi Rp 920.000,- Agar kontinuitas produksi tidak terhambat, maka pada akhir tahun IV, kita sudah harus investasi induk baru. Hingga ketika akhir tahun V induk lama diafkir, maka induk baru sudah mulai berproduksi optimal.

Lokasi peternakan merpati potong, idealnya berketinggian minimal 700 m. dpl. Misalnya kawasan Cisarua di Kab, Bogor. Sebab sama halnya dengan ayam broiller, merpati potong berasal dari negeri sub tropis, yang rentan terhadap udara panas. Saat ini, peternakan Homer King yang berkembang hanyalah di Kab Bandung, setelah sebelumnya berkembang di Kab. Sukabumi. Tersendatnya pengembangan budidaya merpati potong, sebenarnya bukan karena faktor pasar, melainkan modal. Sebab, meskipun pasar merpati potong bersifat tertutup (khusus), namun peluangnya masih cukup longgar. Hingga permintaan dari Singapura dan Hongkong pun, sampai saat ini tidak pernah bisa kita penuhi. Sebab pasar DKI dan kota-kota besar lain di Indonesia pun, saat ini juga masih mengandalkan anak merpati balap sebagai menu burung dara goreng mereka, karena pasokan Homer King yang tak kunjung datang.

Kendala yang juga akan dihadapi oleh para calon investor budidaya Homer King adalah, sedikitnya tenaga terampil pengelola peternakan. Selama 30 tahun terakhir ini, perkembangan budidaya merpati potong hanyalah berupa estafet investor. Investornya ganti-ganti terus, sementara tenaga terampilnya hanya itu-itu saja. Sebab para peternak yang sudah sukses, rata-rata bersikap tertutup soal teknis budidaya. Padahal sebenarnya secara teknis, budidaya merpati potong tidak ada yang perlu dirahasiakan. Akibatnya, calon investor tidak mungkin "memagangkan" tenaga mereka untuk belajar pada peternak yang telah sukses. Karena tertutup peluang untuk memagangkan tenaganya, maka investor baru itu memberi "iming-iming" gaji dan fasilitas lebih tinggi pada tenaga terampil di peternakan lama tersebut.

Kalau upaya itu berhasil, maka akan pindahlah tenaga terempil tersebut ke peternak baru. Begitu ditinggal oleh tenaga yang diandalkan, peternak lama tersebut pelan-pelan surut hingga akhirnya tutup. Demikian seterusnya, hingga secara nasional, agroindustri merpati potong di Indonesia hanya berjalan di tempat. Sementara peluang pasar terus berkembang, sejalan dengan meningkatnya populasi masyarakat kelas menengah dan atas di Indonesia. Komoditas merpati potong memang "terlewatkan" dari perhatian pemerintah. Beda dengan ternak itik, ayam pedaging, sapi perah dan sapi pedaging. Peternakan lebah madu, masih bernasib lebih baik karena diurus oleh Pusat Apiari Pramuka dan Perum Perhutani.

Teknologi perkandangan dengan sistem baterai, ketersediaan pakan bernutrisi tinggi, sebenarnya merupakan kemudahan yang akan memberikan jamminan hasil budidaya secara optimal. Tingkat keuntungan yang relatif tinggi dalam jangka pendek dengan resiko kecil, sebenarnya cukup menantang untuk melakukan investasi merpati potong. Sementara lahan yang diperlukan juga tidak terlalu luas untuk ukuran investasi dengan nilai sampai ratusan juta rupiah. Sifat pasar yang tertutup sebenarnya justru lebih memudahkan penggarapan jika dibanding dengan pasar terbuka. Sifat pasar demikian juga akan memberikan jaminan bahwa produk yang dihasilkan tidak akan dicuri atau dijarah. Sebab mamasarkan merpati potong tentu tidak semudah menjual ayam kampung maupun broiller.

Kalau warung-warung lesehan di Malioboro menyajikan burung dara goreng yang berasal dari merpati balap, konsumen masih sangat memakluminya. Namun kalau restoran Chinese Food juga "terpaksa" ikut menyajikan merpati kampung, maka sebenarnya kita telah menyia-nyiakan peluang investasi yang cukup menarik. Lebih-lebih kalau kita juga berhasrat untuk membidik pasar ekspor. Dengan harga FOB dan melepas barang di Bandara, sebenarnya para peternak Homer King tidakperlu terlalu mencemaskan segala kerepotan prosedur ekspor. Sebab para pembeli luar negeri itulah yang akan mengurus karantina dan lain-lain. Sementara peternak cukup membawa barangnya ke bandara dan menerima uang cash.

Sumber : http://foragri.blogsome.com/burung-dara-goreng-lesehan-dan-chinese-food/

Receive all updates via Facebook. Just Click the Like Button Below

Powered By Blogger Widgets