23 Jan 2013

Hutang = Perahu

Oleh Joe Hartanto


Bagi sebagian orang hutang itu sangat mengerikan, tapi bagi sebagian orang lagi hutang itu menyenangkan. Bagi sebagian orang hutang itu harus dihindari, tapi bagi sebagian orang hutang itu dicari cari.  Bagi sebagian orang lagi hutang itu bagaikan aib dan sesuatu yang memalukan, tapi bagi sebagian orang lagi hutang itu mulia. Bagi sebagian orang hutang itu dianggap membuat tidak berwibawa, tetapi sebagian orang lagi malah bangga dengan semakin besarnya jumlah hutang yang dimiliki……nah lho….. pendapat mana yang benar sih?
Ada juga yang bertanya demikian, apakah hutang itu sesuatu hal negatif yang harus dihindari, dijauhi, dan pemiliknya dihujat hujat, ataukah hutang itu sesuatu hal positif yang dicari cari, dan justru harus dimiliki, serta pemiliknya di puji puji sebagai penggerak perekonomian?.
Teman teman, sebenarnya sebagaimana apapun didunia ini, hutang itu sifatnya netral, hutang itu bisa menjadi negatif atau positif tergantung sudut pandang dan cara pemanfaatan serta penggunaannya. Jika seseorang itu tidak tahu cara memanfaatkan hutang dan cara mengelolanya dengan baik, otomatis hutang itu cepat atau lambat akan menjadi hal negative dalam kehidupannya, akan tetapi ketika seseorang tahu cara memanfaatkan dan mengelola hutang dengan baik, otomatis hutang itu bisa menjadi suatu hal positif bagi dirinya.
Tetapi yang pasti hutang itu bukan tujuan, hutang itu hanya sebagai alat bantu, sebagai pengungkit. Saya secara pribadi tidak pernah menganggap hutang sebagai tujuan hidup saya, hutang dalam bisnis dan investasi yang saya lakukan hanyalah sebagai alat bantu, alat pengungkit saja untuk mencapai tujuan lebih tinggi yang sudah saya tetapkan sebelumnya. Jika diibaratkan seseorang yang memiliki tujuan untuk menyeberangi sebuah sungai, menuju ke tepi sungai di seberang yang tanahnya sangat subur, hijau dan dipenuhi oleh berbagai macam pohon buah buahan. Kemudian dia berhasil menyeberangi sungai tersebut dengan bantuan sebuah perahu, dan setelah mencapai tepi sungai seberang, perahu itupun kemudian di tinggalkan di tepi sungai saja, walaupun sebenarnya tentu saja perahu tersebut amat berjasa menyeberangkan orang tersebut.
Nah demikian pula halnya dengan hutang, bagi saya hutang hanyalah sebagai alat bantu seperti perahu dalam perumpamaan diatas, untuk mempercepat pencapaian tujuan hidup saya.
Jadi ingatlah teman teman, hutang bukanlah sebuah tujuan, hutang hanyalah sebagai alat bantu seperti halnya perahu untuk menyeberangkan seseorang ke tepi sungai seberang. Dan perahu itu sifatnya netral.
Tapi jika kita lanjutkan cerita perumpamaan perahu diatas, banyak orang yang ironisnya, ketika mendengar ada anak kecil yang tenggelam di sungai karena tidak bisa menjaga keseimbangan dan perahunya terbalik, yang disalahkan adalah perahunya, dianggap naik perahu itu adalah hal yang amat berbahaya. Dan yang lebih konyol lagi, terkadang banyak orang yang mau saja ditakut takuti oleh orang lain yang tidak pernah naik perahu, tapi pernah mendengar kisah anak kecil yang tenggelam karena perahunya terbalik, tanpa tahu apa penyebabnya…hahaha.
Jika kita kembalikan ke masalah hutang, demikian pula yang terjadi di masyarakat. Banyak orang menilai hutang itu jelek, negatif, harus dijauhi, tanpa dia sendiri tahu persis alasannya, karena yang dia tahu, hal itulah yang diajarkan oleh orangtuanya sejak kecil, atau temannya,  bahwa hutang itu jelek, jangan pernah berhutang, dll.
Jadi kesimpulannya, ketahui dan pelajarilah dengan baik, termasuk apa sebenarnya  hutang itu, barulah memberikan sebuah penilaian. Jadilah orang yang bijak yang selalu mencari tahu terlebih dahulu sebelum mengambil kesimpulan atau menilai hal apapun didunia ini.

0 komentar:

Posting Komentar

Receive all updates via Facebook. Just Click the Like Button Below

Powered By Blogger Widgets