18 Des 2012

Membeli Homestay dengan Kredit Pemilikan Rumah (KPR)

Seputar cara memiliki bisnis sekaligus berinvestasi aset, membeli homestay lewat mekanisme Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dipandang sebagai langkah tepat. Dua keuntungan sekaligus didapat dari satu keputusan bisnis. Alasan terkuatnya, karena KPR bisa jadi sarana legal untuk “menjual diri”. Memanfaatkan potensi keuangan di hadapan perbankan. Hitung-hitung berbisnis, memiliki aset, sembari menggandeng pihak lain untuk pembiayaan, bank dalam hal ini.
Sebenarnya, di perbankan tidak mengenal mekanisme KPR untuk pembelian homestay, yang tersedia adalah KPR untuk rumah tinggal biasa. Soal kemudian rumah yang dibeli difungsikan untuk homestay bersewa harian, perbankan tidak akan mempersoalkannya. Karena bagi perbankan asal aset dan legalitasnya jelas, dan nasabah dianggap mampu mengangsur cicilannya, maka persetujuan KPR bisa diberikan.
Bagi mereka yang memiliki repayment capacity, istilah perbankan untuk kemampuan angsur pinjaman KPR, berpeluang besar menggandeng bank sebagai mitra bisnis. Meski demikian pada prakteknya beberapa orang saja yang menyadari dan memanfaatkan kemudahan peluang tersebut. Menilik dari potensinya serta resikonya, bagi pebisnis baru memang terasa bijaksana jika memilih wilayah bisnis yang sederhana dan terbuka lebar kemungkinan berhasilnya. Atas kesadaran tentang adanya resiko itulah mengawinkan investasi aset dan bisnis dalam bentuk membeli homestay memperoleh momentum obyektif.
Sebelum melangkah lebih jauh, beberapa pertimbangan ekonomi ini bisa dipertimbangkan sebagai dasar keputusan membeli homesatay lewat KPR, antara lain:
1. Membeli homestay dengan cara KPR berarti membangun portofoliao diri di hadapan perbankan. Pada gilirannya nanti jika bisnis telah berkembang pesat dan terus bertumbuh, faktor dukungan perbankan amat diperlukan.
2. Bagi mereka yang telah menjadi pengusaha, persetujuan KPR dari perbankan dapat menjadi legitimasi tambahan kredibilitas keuangan dan adiministrasi. Umumnya pihak bank punya pertimbangan detail sebelum memberi kredit ke nasabah, dan ukuran terpentingnya adalah pelaporan administrasi yang baik.
3. Memilki homestay mau tak mau membuat pebisnis baru terlibat langsung urusan manajemen dan pengaturan uang. Belajar dari keberhasilan pebisnis besar, daya ungkit yang mereka lakukan untuk membangun kekayaan, satunya berasal dari keterampilan dan kecerdikan mereka dalam mengelola manajemen uang. Menjadikan uang modal awal beranak pinak di bisnis.
4. Resiko untung dan rugi dalam bisnis adalah sekeping mata uang, kesatuan yang sama-sama bisa terjadi. Membeli homestay dari KPR merupakan cara langsung belajar menghitung resiko berbanding potensi keberhasilan dalam kadar moderat.
5. Jika terbukti berhasil, meski skalanya relatif, maka keberhasilan tersebut, sekali lagi bisa menjadi portofolio tambahan untuk meyakinkan investor lebih besar pada bidang bisnis sejenis maupun lainnya.
6. Bagi pebisnis pemula, menekuni bisnis dengan bersedia berbagi adalah bijaksana. Baik dalam hal keuntungan maupun kerugian, KPR secara tidak langsung membuat pebisnis pemula membagi resiko dengan perbankan.
7. Dalam catatan lain, meniru sejarah orang kaya dalam membangun dan mempertahankan kekayaan dilakukan dengan kepemilkin aset. Property adalah salah satu pilihannya, emas dan paper asset (surat berharga, obligasi dan sejenisnya). Aset properti juga berfungsi sebagai pelampung, sekoci penyelamat jika terjadi krisis keuangan yang tak terduga.
 Memutuskan tindakan bisnis, cara dan jalan masuknya memang berbeda tiap orang. Kebanyakan orang akan mempelajari aspek pengetahuan dan metodologinya terlebih dulu. Memiilki dan mengelola homestay tergolong ringan untuk melatih kepiawaian bisnis dan mendapatkan keuntungan sekaligus.
Sumber:http://propertytoday.co.id/membeli-homestay-dengan-kredit-pemilikan-rumah-kpr.html

Receive all updates via Facebook. Just Click the Like Button Below

Powered By Blogger Widgets